Angsa putih nan suci,
Penuh sanjungan dan popularitas
Sebagai hakim yang tak tertulis
Membuat terdakwa bertanya-tanya
Angsa hanya melihat sisi kiri saja
Tidak ada toleransi dalam benaknya
Merasa paling benar dan agung
Seakan lupa masih ada yg maha ESA
itik yg buruk rupa tidak peduli sudut pandang mereka
hanya melakukan tindakan yg tidak merugikan lainnya
dia hanya menunduk dan sungkan untuk melihat ke atas
sang angsa mulai merasa terusik dgn geligat itik
bukan karna ibadahnya yg takut tersaingi
namun popularitasnya yg tak mau tergeser
angsa beberapa kali mencoba menghakimi itik
itik berikut senyum manisnya hanya menunduk
angsa yg merasa paling putih mulai resah
apa iyah aku terkalahkan oleh siburuk rupa?
Kembali berikut senyumnya itik tetap menunduk
Kini angsa mulai mengaung menjadi-jadi
Seakan ingin melahap itik
hidup-hidup
Dan kembali dgn senyum
manisnya itik masih menunduk
Kali ini angsa mulai
mengeluarkan kata-kata meriam
Seakan ingin menghancurkan
hati dan moral itik
Itik tersenyum dan mulai
berkata,
“buruk dihadapanmu bukan berati
buruk dihadapan tuhanku”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar