Semua orang punya masa kecil yg berkesan dalam
cerita hidupnya, karna masa kecil adalah masa yg paling susah untuk dilupakan
dimana dimasa-masa itu adalah masa yang sangat menyenangkan, menghabiskan
banyak waktu untuk bermain dan tidak punya banyak waktu untuk memikirkan
masalah apapun. Dimasa kecil kita punya banyak karakter namun karakter yg
paling menonjol adalah karakter Nakal, yah nakal adalah hal umum bagi anak
kecil yg terkadang membuat orang tua kewalahan sampai stress karna mempunyai
anak yang nakal namun, orang tua punya seribu cara untuk menangani anaknya.
Begitu pula dengan orang tua ku yang selalu mampu menangani aku yang super
nakal ketika masih diusia kanak-kanak, aku terlahir sebagai anak terakhir dari
empat bersaudara dan kebetulan aku adalah anak lelaki satu-satunya dikeluarga
ku ketiga kakakku semuanya perempuan dan mereka semua sangat memanjakanku tanpa
terkecuali ibu dan bapak yang sangat care kepada anak bontotnya ini.
Ketika
aku masih kecil aku punya banyak kisah yang tidak pernah bisa ku lupakan,
berhubung aku tergolong anak yang sangat nakal maka hal-hal yang selalu
teringat adalah masa-masa kenakalan ku. Aku pernah tercebur kedalam empang
karna ingin mengambil buah kecapi yg terjatuh kedalam empang tetanggaku, aku
juga pernah terjatuh dari pohon jambu dengan ketinggian yg cukup tinggi hingga bibir
bagian bawah ku sobek dan membekas hingga sekarang, dan terkena ayunan yg
terbuat dari tiang besi baja dan ban bekas mobil dengan kenang-kenangan jari
kaki sebelah kanan ku bengkok, dan masih banyak lagi kenakalan ku yang tak bisa
ku ceritakan satu persatunya.
Beberapa
hal yg agak kurang berkesan dimasa kecilku adalah karna faktor keadaan ekonomi
keluargaku ketika itu sangatlah memperihatikan, bapak hanya seorang mekanik
bengkel mobil yang kerjanya serabutan sedangkan ibu hanya berperan sebagai ibu
rumah tangga saja namun, terkadang ibu berjualan nasi uduk, kue-kue, dan hasil
kebun untuk menutupi kebutuhan ekonomi keluarga kami dan tetehku yg pertama mau
bekerja disebuah toko walaupun sebenarnya dia harus melanjutkan sekolah ke
tingkat SMA namun, dia memilih tidak melanjutkan studinya dan memutuskan untuk
bekerja untuk ikut membantu kebutuhan ekonomi serta membiayai sekolah
adik-adiknya.
Pada
saat itu kami tinggal dirumah yang baru saja dibangun namun belum selesai tapi
sudah ditempati, mungkin kalau digambarkan secara jelasnya rumah itu baru saja
pasang batu bata dan genting, lantainya masih tanah dan dingdingnya juga masih
berupa bentuk batu bata sehingga kalau bersandar malah membuat luka baret
dibadan serta jendelanya hanya ditutupi oleh triplek yang dicat putih sebagai
pengganti kaca. Karna keadaan rumah yang seperti itu aku sering diejek oleh
teman-teman ku katanya kaca rumah ku ‘kaca millenium’ karna bukan pakai kaca
tapi pakai triplek yg dicat putih, dan tak jarang setelah diledek aku langsung
pulang dan menangis lalu ibu menanyakan kepadaku “kenapa kamu menangis de?” Aku
menceritakan semuanya tentang ejekan temanku setelah itu ibu memelukku dan
malah ikut-ikutan menangis.
Keadaan
paling krisis adalah ketika bapak mempunyai penyakit Hernia dan hampir disetiap
malam penyakit bapak kumat dan bapak meringis menahan rasa sakit, pada saat itu
kesabaran ibu sebagai seorang istri benar-benar diuji, ibu pergi kesana kemari
untuk mengobati bapak dan tak jarang ibu juga meminjam uang ke orang lain untuk
biaya pengobatan bapak, Hingga pada suatu malam penyakit bapak kembali kumat
namun kali ini bapak langsung dilarikan kerumah sakit menggunakan mobil pick up
pinjaman dari tetangga, Disepanjang perjalanan menuju rumah sakit aku hanya
terdiam membisu namun sebenarnya hatiku menangis menjadi-jadi melihat kondisi
bapak ku yg sudah tak kuasa menahan rasa sakit dan sesampai dirumah sakit
dokter mengharuskan bapak untuk dioperasi namun biaya rumah sakit swasta
terlalu besar hingga bapak meminta untuk diberikan obat bius penahan sakit
saja, dan keluarga memutuskan untuk membawa bapak kerumah sakit umum dengan
harapan biaya operasi yang lebih murah.
Pasca
operasi bapak hanya istirahat dirumah dan menjadi seorang penganguran,
dimasa-masa itulah masa yg paling pilu bagi diriku ibu hanya mampu memasak nasi
itupun berasnya hasil menghutang dari ibu warung, pernah sekali ibu warung
datang kerumah berniat untuk menagih hutang kepada ibu namun, dia menagih
dengan tindakan yg kurang mengenakan hati ibuku, dia datang kerumah tanpa mau
masuk kedalam dan membentak-bentak ibu yang sedang memasak didapur “hey kapan
kamu mau bayar hutangmu, sudah berapa minggu ini kamu belum bayar juga, mau
sampai kapan ini hutang kamu hah?” Bentakan ibu warung dengan mata melotot dan
kedua tangan dipinggang. Sambil meneteskan air matanya sesekali ibu menjawab
dengan nada yang amat pelan “iyah bu, nanti juga saya bayar!”.
Disuatu
hari perutku tiba-tiba keroncongan, cacing-cacing didalam perutku seperti
berdemo karna belum dimasuki makanan apapun dari pagi hari, aku memeriksa
kedalam dapur namun ku tak menemui makanan apapun hanya ada nasi sisa kemarin
dipenghangat nasi, aku pun bertanya pada ibu “mahh, de pengen makan, laper banget mah!” namun ibu
menjawab dengan nada singgungan kepada bapak yang pada saat itu berada diantara
kita “mamah gak masak apa-apa, bapak kamunya juga gak kerja dan gak ngasih duit
kemamah!” pada saat itu aku melihat ekspresi
bapak yang hanya terdiam mungkin karna merasa bersalah sebagai kepala
keluarga namun tak mampu berperan sebagaimana mestinya. Lalu setelah itu aku
untuk memutus pergi main saja dengan harapan mampu menahan rasa laparku dan aku
juga tidak mau membuat konflik dirumah hanya karna aku meminta makan,
berjam-jam aku main bersama teman-temanku namun kembali perutku seperti memberi
isyarat ingin dimasuki makanan, akhirnya aku memutuskan untuk pulang.
Diperjalan pulang aku berpapasan dengan tukang sayur yang menggunakan sepeda
namun dia mengayun sepedanya dengan kecepatan tinggi sehingga salah satu
sayuran yang digantung bagian belakang gerobak sayurnya terjatuh tepat
disampingku, aku pun mengambilnya dan berniat untuk mengembalikan dengan
memanggil abang tukang sayur supaya berhenti namun dia mengayun sepedanya
terlalu kencang sehingga ia tidak menanggapi panggilanku.
Aku
pun pulang kerumah dengan membawa sayur kembang kol yang tak sengaja aku
temukan, namun sesampai dirumah ibu menyakan tentang kembang kol yang aku bawa
“dapat dari mana kamu ini?”ibu bertanya Sambil memasang muka penasaran. “tadi
nemu mah dijalan, jatoh dari gerobak sayur si abang tapi pas mau dibalikin
dianya malah ngebut naik sepedanya” aku coba menjelaskan. Lalu bapak datang dan
bertanya hal yang sama pula seperti yang ibu tanyakan kepadaku dan aku pun
menjelaskan kembali namun ibu kembali bertanya dan meminta penjelasanku “yang
bener de, apa kamu dapet nyuri yah? Gak boleh nyuri de walaupun kita susah tapi
jangan sampai nyuri apapun” ibu bertanya dengan nada seakan mau menangis.
Akupun mulai menjelaskan kembali “enggak
mah, enggak de gak nyuri beneran de tadi nemu, mau dikembaliin ke abangnya tapi
abangnya malah gak denger yaudah dibawa pulang aja.” Akhirnya bapak pun mempercayai
penjelasanku lalu bapak langsung bergegas mencuci kembang kol tersebut lalu
memasaknya, dan kami pun makan bersama-sama dengan sayur yang tak sengaja ku
temukan itu.
Sepenggal cerita diatas adalah kisah nyata
yang benar-benar pernah ku alami bahkan aku sempat meneteskan air mata ketika
menulis cerita ini, teringat kembali ketika aku ada dimasa-masa yang suram
tersebut, namun hal itu pula yang selalu memotivasi aku untuk tumbuh menjadi
anak yang mampu membahagiakan kedua orang tua dan mampu menjadi anak yang
membanggakan, dengan bekal motivasi itu aku sebagai anak terakhir bertekad
untuk menjadi orang Sukses dan karna tekad itu pula diusia ku yang baru
menginjak 19 tahun harus bekerja keras untuk membiayai kuliahku yang saat ini
sudah berada disemester 3, aku sedikit bangga dengan diriku sendiri yang mampu
mandiri sampai detik ini namun aku belum puas dengan semua ini, karna aku pikir
kerja keras ku saat ini belum setara dengan kerja keras bapak mencari nafkah
demi menyambung hidup keluaga kami serta kesabaran ibu merawat aku yang super
nakal diwaktu kecil hingga aku tumbuh menjadi anak yang mandiri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar