Sabtu, 03 Mei 2014

MASA KECILKU YG PILU




Semua orang punya masa kecil yg berkesan dalam cerita hidupnya, karna masa kecil adalah masa yg paling susah untuk dilupakan dimana dimasa-masa itu adalah masa yang sangat menyenangkan, menghabiskan banyak waktu untuk bermain dan tidak punya banyak waktu untuk memikirkan masalah apapun. Dimasa kecil kita punya banyak karakter namun karakter yg paling menonjol adalah karakter Nakal, yah nakal adalah hal umum bagi anak kecil yg terkadang membuat orang tua kewalahan sampai stress karna mempunyai anak yang nakal namun, orang tua punya seribu cara untuk menangani anaknya. Begitu pula dengan orang tua ku yang selalu mampu menangani aku yang super nakal ketika masih diusia kanak-kanak, aku terlahir sebagai anak terakhir dari empat bersaudara dan kebetulan aku adalah anak lelaki satu-satunya dikeluarga ku ketiga kakakku semuanya perempuan dan mereka semua sangat memanjakanku tanpa terkecuali ibu dan bapak yang sangat care kepada anak bontotnya ini.
                                Ketika aku masih kecil aku punya banyak kisah yang tidak pernah bisa ku lupakan, berhubung aku tergolong anak yang sangat nakal maka hal-hal yang selalu teringat adalah masa-masa kenakalan ku. Aku pernah tercebur kedalam empang karna ingin mengambil buah kecapi yg terjatuh kedalam empang tetanggaku, aku juga pernah terjatuh dari pohon jambu dengan ketinggian yg cukup tinggi hingga bibir bagian bawah ku sobek dan membekas hingga sekarang, dan terkena ayunan yg terbuat dari tiang besi baja dan ban bekas mobil dengan kenang-kenangan jari kaki sebelah kanan ku bengkok, dan masih banyak lagi kenakalan ku yang tak bisa ku ceritakan satu persatunya.
                Beberapa hal yg agak kurang berkesan dimasa kecilku adalah karna faktor keadaan ekonomi keluargaku ketika itu sangatlah memperihatikan, bapak hanya seorang mekanik bengkel mobil yang kerjanya serabutan sedangkan ibu hanya berperan sebagai ibu rumah tangga saja namun, terkadang ibu berjualan nasi uduk, kue-kue, dan hasil kebun untuk menutupi kebutuhan ekonomi keluarga kami dan tetehku yg pertama mau bekerja disebuah toko walaupun sebenarnya dia harus melanjutkan sekolah ke tingkat SMA namun, dia memilih tidak melanjutkan studinya dan memutuskan untuk bekerja untuk ikut membantu kebutuhan ekonomi serta membiayai sekolah adik-adiknya.
                Pada saat itu kami tinggal dirumah yang baru saja dibangun namun belum selesai tapi sudah ditempati, mungkin kalau digambarkan secara jelasnya rumah itu baru saja pasang batu bata dan genting, lantainya masih tanah dan dingdingnya juga masih berupa bentuk batu bata sehingga kalau bersandar malah membuat luka baret dibadan serta jendelanya hanya ditutupi oleh triplek yang dicat putih sebagai pengganti kaca. Karna keadaan rumah yang seperti itu aku sering diejek oleh teman-teman ku katanya kaca rumah ku ‘kaca millenium’ karna bukan pakai kaca tapi pakai triplek yg dicat putih, dan tak jarang setelah diledek aku langsung pulang dan menangis lalu ibu menanyakan kepadaku “kenapa kamu menangis de?” Aku menceritakan semuanya tentang ejekan temanku setelah itu ibu memelukku dan malah ikut-ikutan menangis.
                                Keadaan paling krisis adalah ketika bapak mempunyai penyakit Hernia dan hampir disetiap malam penyakit bapak kumat dan bapak meringis menahan rasa sakit, pada saat itu kesabaran ibu sebagai seorang istri benar-benar diuji, ibu pergi kesana kemari untuk mengobati bapak dan tak jarang ibu juga meminjam uang ke orang lain untuk biaya pengobatan bapak, Hingga pada suatu malam penyakit bapak kembali kumat namun kali ini bapak langsung dilarikan kerumah sakit menggunakan mobil pick up pinjaman dari tetangga, Disepanjang perjalanan menuju rumah sakit aku hanya terdiam membisu namun sebenarnya hatiku menangis menjadi-jadi melihat kondisi bapak ku yg sudah tak kuasa menahan rasa sakit dan sesampai dirumah sakit dokter mengharuskan bapak untuk dioperasi namun biaya rumah sakit swasta terlalu besar hingga bapak meminta untuk diberikan obat bius penahan sakit saja, dan keluarga memutuskan untuk membawa bapak kerumah sakit umum dengan harapan biaya operasi yang lebih murah.
                Pasca operasi bapak hanya istirahat dirumah dan menjadi seorang penganguran, dimasa-masa itulah masa yg paling pilu bagi diriku ibu hanya mampu memasak nasi itupun berasnya hasil menghutang dari ibu warung, pernah sekali ibu warung datang kerumah berniat untuk menagih hutang kepada ibu namun, dia menagih dengan tindakan yg kurang mengenakan hati ibuku, dia datang kerumah tanpa mau masuk kedalam dan membentak-bentak ibu yang sedang memasak didapur “hey kapan kamu mau bayar hutangmu, sudah berapa minggu ini kamu belum bayar juga, mau sampai kapan ini hutang kamu hah?” Bentakan ibu warung dengan mata melotot dan kedua tangan dipinggang. Sambil meneteskan air matanya sesekali ibu menjawab dengan nada yang amat pelan “iyah bu, nanti juga saya bayar!”.
                Disuatu hari perutku tiba-tiba keroncongan, cacing-cacing didalam perutku seperti berdemo karna belum dimasuki makanan apapun dari pagi hari, aku memeriksa kedalam dapur namun ku tak menemui makanan apapun hanya ada nasi sisa kemarin dipenghangat nasi, aku pun bertanya pada ibu “mahh,  de pengen makan, laper banget mah!” namun ibu menjawab dengan nada singgungan kepada bapak yang pada saat itu berada diantara kita “mamah gak masak apa-apa, bapak kamunya juga gak kerja dan gak ngasih duit kemamah!” pada saat itu aku melihat ekspresi  bapak yang hanya terdiam mungkin karna merasa bersalah sebagai kepala keluarga namun tak mampu berperan sebagaimana mestinya. Lalu setelah itu aku untuk memutus pergi main saja dengan harapan mampu menahan rasa laparku dan aku juga tidak mau membuat konflik dirumah hanya karna aku meminta makan, berjam-jam aku main bersama teman-temanku namun kembali perutku seperti memberi isyarat ingin dimasuki makanan, akhirnya aku memutuskan untuk pulang. Diperjalan pulang aku berpapasan dengan tukang sayur yang menggunakan sepeda namun dia mengayun sepedanya dengan kecepatan tinggi sehingga salah satu sayuran yang digantung bagian belakang gerobak sayurnya terjatuh tepat disampingku, aku pun mengambilnya dan berniat untuk mengembalikan dengan memanggil abang tukang sayur supaya berhenti namun dia mengayun sepedanya terlalu kencang sehingga ia tidak menanggapi panggilanku.
                                Aku pun pulang kerumah dengan membawa sayur kembang kol yang tak sengaja aku temukan, namun sesampai dirumah ibu menyakan tentang kembang kol yang aku bawa “dapat dari mana kamu ini?”ibu bertanya Sambil memasang muka penasaran. “tadi nemu mah dijalan, jatoh dari gerobak sayur si abang tapi pas mau dibalikin dianya malah ngebut naik sepedanya” aku coba menjelaskan. Lalu bapak datang dan bertanya hal yang sama pula seperti yang ibu tanyakan kepadaku dan aku pun menjelaskan kembali namun ibu kembali bertanya dan meminta penjelasanku “yang bener de, apa kamu dapet nyuri yah? Gak boleh nyuri de walaupun kita susah tapi jangan sampai nyuri apapun” ibu bertanya dengan nada seakan mau menangis. Akupun mulai menjelaskan kembali  “enggak mah, enggak de gak nyuri beneran de tadi nemu, mau dikembaliin ke abangnya tapi abangnya malah gak denger yaudah dibawa pulang aja.” Akhirnya bapak pun mempercayai penjelasanku lalu bapak langsung bergegas mencuci kembang kol tersebut lalu memasaknya, dan kami pun makan bersama-sama dengan sayur yang tak sengaja ku temukan itu.
Sepenggal cerita diatas adalah kisah nyata yang benar-benar pernah ku alami bahkan aku sempat meneteskan air mata ketika menulis cerita ini, teringat kembali ketika aku ada dimasa-masa yang suram tersebut, namun hal itu pula yang selalu memotivasi aku untuk tumbuh menjadi anak yang mampu membahagiakan kedua orang tua dan mampu menjadi anak yang membanggakan, dengan bekal motivasi itu aku sebagai anak terakhir bertekad untuk menjadi orang Sukses dan karna tekad itu pula diusia ku yang baru menginjak 19 tahun harus bekerja keras untuk membiayai kuliahku yang saat ini sudah berada disemester 3, aku sedikit bangga dengan diriku sendiri yang mampu mandiri sampai detik ini namun aku belum puas dengan semua ini, karna aku pikir kerja keras ku saat ini belum setara dengan kerja keras bapak mencari nafkah demi menyambung hidup keluaga kami serta kesabaran ibu merawat aku yang super nakal diwaktu kecil hingga aku tumbuh menjadi anak yang mandiri.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar