Kamis, 05 Juni 2014

SELAMAT JALAN PAMAN


Sore itu ku baru saja menyelesaikan pekerjaan ku, waktu menunjukan pukul 16.15 WIB aku segera bergegas ke mushola ditempat ku bekerja untuk menunaikan sholat ashar. Aku duduk beristirahat sembari membuka sepatu dan menggulung celanaku sebelum mengambil air wudhu pada saat itu terasa getaran didalam celanaku yg berasal dari getaran handphone ku kupikir kawanku yg sms sehingga aku hiraukan getaran tanda pesan masuk  tersebut namun handphone kembali bergetar untuk yg kedua kalinya lalu kucoba untuk melihatnya ternyata itu pesan singkat dari tetehku setelah kubaca betapa kagetnya aku bahwa pesan singkat tersebut memberitahukan bahwa pamanku sudah meninggal dan tetehku menyuruhku untuk segera pulang detik itu juga. Badan ku langsung gemetar seakan tak percaya dgn pesan singkat itu langsung saja ku ambil ait wudhu da sholat, seusai sholat kembali sms dari tetehku berdatangan, dan aku pun segera ijin untuk pulang lebih awal kpd atasanku. Dgn mengendarai sepeda motorku ku melaju dgn sangat cepat perasaan ku sudah tak karuan, sesekali aku berpikir ini tidak akan terjadi karna aku tahu pamanku selama ini sehat-sehat saja.
Sesampai dirumah beliau aku langsung parkirkan motorku kulihat sudah banyak sanak keluarga serta kawan-kawan beliau berkumpul dgn raut wajah sangat sedih dan tak jarang pula aku melihat tetesan air mata dari wajah mereka, aku coba melangkahkan kakiku kedalam rumah dan setelah itu terjawablah semua perasaan ketidakpercayaan ku tentang pesan singkat dari tetehku, aku melihat sosok pamanku yg sudah terbaring kaku dan dikelilingi para sanak keluarga dan sahabat yg mengaji.
Aku coba menahan air mataku, aku coba untuk ikhlas menerimanya, kemudian aku coba mencari sepupu lelaki ku yg merupakan anak almarhum, kucoba tengok kekamar tetapi dikamar hanya ada bibiku yg terus menangis histeris dan disana ada mamah dan tetehku yg mencoba menenangkan bibi, lalu aku coba keluar dan bertemu dgn sepupu ku yg tergulai lemas dilantai, aku coba membangunkanya dan mengajaknya dikamar lalu aku coba menenangkan dia namun tak beberapa kemudian dia kembali menagis sembari berkata “bapak… bapak gua nur… bapak gua” pada saat itu tak terasa air mataku tak dapat lagi terbendung dan membasahi seluruh wajah, aku coba memegang punduk sepupuku dan berkata “sabarr yah ini sudah takdir yg maha kuasa, kita semuapun bakal mengalaminya” dalam hati aku sangat merasakan kesedihan ini, tak terbanyang bagaimana jika aku yg berada diposisi sepupuku, itu pula yg akhirnya membuat air mataku seakan tak mau berhenti menetes…
Tepat pukul 17.30 jenazah baru akan dimandikan, Oki sepupuku yg merupakan anak kedua dan laki-laki satu-satunya dari almarhum ikut serta memandikan ayahanda tercinta, sedangkan aku hanya mencoba membantu menyiapkan kain kafan dan peralatan lainnya, rencananya ba’da magrib jenazah akan disholatkan dimushola tepat didepan rumah almarhum. Ketika petang menjelang suara para muadzin pun mulai terdengar saling bersahutan, segera kulangkahkan kakiku kemushola untuk sholat magrib berjama’ah lalu dilanjutkan dengan melakukan sholat jenazah. Tak terbanyang dan seperti mimpi saja pada saat itu mengingat selama ini pamanku sehat-sehat saja malah kondisi badannya juga cukup kekar pada saat itu aku coba mencari tahu dan bibiku menceritakan kronologinya bahwa pada hari itu suaminya berangkat kerja seperti biasanya namun ketika waktu jam makan siang beliau pulang kerumah dan minta untuk dikerok dan pada saat itu bibiku menganggap suaminya hanya masuk angin biasa saja setelah itu tepat pukul 3 sore beliau kembali pulang karna mungkin tidak merasa enak badan sesampai dirumah beliau langsung pingsan dan tak sadarkan diri pihak keluarga mencoba menbawanya kerumah sakit tapi nyawa paman sudah tidak bisa diselamatkan lagi, para pelayat yg berdatanganpun banyak yg beropini bahwa itu adalah penyakit angin duduk yg disebabkan oleh pola hidup yg kurang teratur seperti sering begadang, minum kopi berlebihan , dan meroko.
Beberapa menit setelah sholat magrib jenazah pun akhirnya disholatkan oleh puluhan jama’ah yg sudah menunggu, setelah disholatkan lalu jenazah dinaikan kemobil pick up untuk dibawa menuju tempat pemakaman umum didesa sebrang, aku bertugas mengawal dengan mengendarai sepeda motor dan sehelai bendera kuning ditangan aku pun mencoba meminta pengendara lain untuk melambatkan laju kendaraannya demi kelancaran perjalanan jenazah menuju ketempat pemakaman umum.
Aku melaju didepan mobil yg membawa jenazah pamanku, sembari mengibaskan bendera kuning kembali air mataku menetes deras membasahi pipi, terbanyang betapa baiknya pamanku yg selalu meledekku dengan lelucon-lelucon khasnya, dia selalu tersenyum kepada semua orang, humoris, dan juga religious, teringat bahwa ternyata selalu dia menjadi orang pertama yg membawa keluarganya kerumahku ketika idul fitri, dan tak terbanyang idul fitri tahun yg akan datang dia sudah dipanggil oleh sang maha kuasa. Mungkin, Allah SWT lebih menyayanginya sehingga dia dipanggil begitu cepat.
Disepanjang perjalanan menuju ketempat peristirahatan terakhir beliau aku sangat takjub serta kagum oleh sosok beliau dan sangat terharu ketika melihat betapa ramai sahabat-sahabat beliau yg ikut serta mengantar beliau ketempat pemakaman dengan mengendarai sepeda motor.

Sekitar pukul 7 malam akhirnya kami pun tiba diTPU, jenazahpun segera digotong dgn lantunan kalimat dua syahdat, sepupuku oki anak dari almarhum ikut turun dan meggotong jenazah beserta para guru-guru dan sanak saudara. Sembari melantunkan surah yasin, dalam hati aku berdo’a semoga Allah SWT mengampuni segala dosa-dosanya dan ditempatkan almarhum disyurganya, selamat jalan paman, namamu akan selalu harum, meninggal dalam mencari nafkah Insya Allah Syahid. Amin….

Tidak ada komentar:

Posting Komentar