Sore itu ku baru saja menyelesaikan pekerjaan ku, waktu
menunjukan pukul 16.15 WIB aku segera bergegas ke mushola ditempat ku bekerja
untuk menunaikan sholat ashar. Aku duduk beristirahat sembari membuka sepatu
dan menggulung celanaku sebelum mengambil air wudhu pada saat itu terasa
getaran didalam celanaku yg berasal dari getaran handphone ku kupikir kawanku
yg sms sehingga aku hiraukan getaran tanda pesan masuk tersebut namun handphone kembali bergetar
untuk yg kedua kalinya lalu kucoba untuk melihatnya ternyata itu pesan singkat
dari tetehku setelah kubaca betapa kagetnya aku bahwa pesan singkat tersebut
memberitahukan bahwa pamanku sudah meninggal dan tetehku menyuruhku untuk
segera pulang detik itu juga. Badan ku langsung gemetar seakan tak percaya dgn
pesan singkat itu langsung saja ku ambil ait wudhu da sholat, seusai sholat
kembali sms dari tetehku berdatangan, dan aku pun segera ijin untuk pulang
lebih awal kpd atasanku. Dgn mengendarai sepeda motorku ku melaju dgn sangat
cepat perasaan ku sudah tak karuan, sesekali aku berpikir ini tidak akan
terjadi karna aku tahu pamanku selama ini sehat-sehat saja.
Sesampai dirumah beliau aku langsung parkirkan motorku
kulihat sudah banyak sanak keluarga serta kawan-kawan beliau berkumpul dgn raut
wajah sangat sedih dan tak jarang pula aku melihat tetesan air mata dari wajah
mereka, aku coba melangkahkan kakiku kedalam rumah dan setelah itu terjawablah
semua perasaan ketidakpercayaan ku tentang pesan singkat dari tetehku, aku
melihat sosok pamanku yg sudah terbaring kaku dan dikelilingi para sanak
keluarga dan sahabat yg mengaji.
Aku coba menahan air mataku, aku coba untuk ikhlas
menerimanya, kemudian aku coba mencari sepupu lelaki ku yg merupakan anak
almarhum, kucoba tengok kekamar tetapi dikamar hanya ada bibiku yg terus
menangis histeris dan disana ada mamah dan tetehku yg mencoba menenangkan bibi,
lalu aku coba keluar dan bertemu dgn sepupu ku yg tergulai lemas dilantai, aku
coba membangunkanya dan mengajaknya dikamar lalu aku coba menenangkan dia namun
tak beberapa kemudian dia kembali menagis sembari berkata “bapak… bapak gua nur…
bapak gua” pada saat itu tak terasa air mataku tak dapat lagi terbendung dan
membasahi seluruh wajah, aku coba memegang punduk sepupuku dan berkata “sabarr
yah ini sudah takdir yg maha kuasa, kita semuapun bakal mengalaminya” dalam
hati aku sangat merasakan kesedihan ini, tak terbanyang bagaimana jika aku yg berada
diposisi sepupuku, itu pula yg akhirnya membuat air mataku seakan tak mau
berhenti menetes…
Tepat pukul 17.30 jenazah baru akan dimandikan, Oki sepupuku
yg merupakan anak kedua dan laki-laki satu-satunya dari almarhum ikut serta
memandikan ayahanda tercinta, sedangkan aku hanya mencoba membantu menyiapkan
kain kafan dan peralatan lainnya, rencananya ba’da magrib jenazah akan
disholatkan dimushola tepat didepan rumah almarhum. Ketika petang menjelang
suara para muadzin pun mulai terdengar saling bersahutan, segera kulangkahkan
kakiku kemushola untuk sholat magrib berjama’ah lalu dilanjutkan dengan
melakukan sholat jenazah. Tak terbanyang dan seperti mimpi saja pada saat itu
mengingat selama ini pamanku sehat-sehat saja malah kondisi badannya juga cukup
kekar pada saat itu aku coba mencari tahu dan bibiku menceritakan kronologinya
bahwa pada hari itu suaminya berangkat kerja seperti biasanya namun ketika
waktu jam makan siang beliau pulang kerumah dan minta untuk dikerok dan pada
saat itu bibiku menganggap suaminya hanya masuk angin biasa saja setelah itu
tepat pukul 3 sore beliau kembali pulang karna mungkin tidak merasa enak badan
sesampai dirumah beliau langsung pingsan dan tak sadarkan diri pihak keluarga
mencoba menbawanya kerumah sakit tapi nyawa paman sudah tidak bisa diselamatkan
lagi, para pelayat yg berdatanganpun banyak yg beropini bahwa itu adalah
penyakit angin duduk yg disebabkan oleh pola hidup yg kurang teratur seperti sering
begadang, minum kopi berlebihan , dan meroko.
Beberapa menit setelah sholat magrib jenazah pun akhirnya
disholatkan oleh puluhan jama’ah yg sudah menunggu, setelah disholatkan lalu
jenazah dinaikan kemobil pick up untuk dibawa menuju tempat pemakaman umum
didesa sebrang, aku bertugas mengawal dengan mengendarai sepeda motor dan
sehelai bendera kuning ditangan aku pun mencoba meminta pengendara lain untuk
melambatkan laju kendaraannya demi kelancaran perjalanan jenazah menuju
ketempat pemakaman umum.
Aku melaju didepan mobil yg membawa jenazah pamanku, sembari
mengibaskan bendera kuning kembali air mataku menetes deras membasahi pipi,
terbanyang betapa baiknya pamanku yg selalu meledekku dengan lelucon-lelucon
khasnya, dia selalu tersenyum kepada semua orang, humoris, dan juga religious,
teringat bahwa ternyata selalu dia menjadi orang pertama yg membawa keluarganya
kerumahku ketika idul fitri, dan tak terbanyang idul fitri tahun yg akan datang
dia sudah dipanggil oleh sang maha kuasa. Mungkin, Allah SWT lebih
menyayanginya sehingga dia dipanggil begitu cepat.
Disepanjang perjalanan menuju ketempat peristirahatan
terakhir beliau aku sangat takjub serta kagum oleh sosok beliau dan sangat
terharu ketika melihat betapa ramai sahabat-sahabat beliau yg ikut serta
mengantar beliau ketempat pemakaman dengan mengendarai sepeda motor.
Sekitar pukul 7 malam akhirnya kami pun tiba diTPU,
jenazahpun segera digotong dgn lantunan kalimat dua syahdat, sepupuku oki anak
dari almarhum ikut turun dan meggotong jenazah beserta para guru-guru dan sanak
saudara. Sembari melantunkan surah yasin, dalam hati aku berdo’a semoga Allah
SWT mengampuni segala dosa-dosanya dan ditempatkan almarhum disyurganya,
selamat jalan paman, namamu akan selalu harum, meninggal dalam mencari nafkah
Insya Allah Syahid. Amin….
Tidak ada komentar:
Posting Komentar